KAB. 50 KOTA | Ketinggian Harau kembali menjadi saksi bagaimana nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan masyarakat menyatu dalam satu momentum sakral. Penutupan suluk Silsilah Syekh H. Mahmud Abdullah yang digelar pada Minggu (5/4/2026) berlangsung penuh kekhidmatan, menghadirkan suasana religius yang begitu mendalam di tengah masyarakat Kabupaten Lima Puluh Kota.
Di balik suasana yang tenang dan penuh makna tersebut, kehadiran Kapolres Lima Puluh Kota, AKBP Syaiful Wachid, S.H., S.I.K., M.H, menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni kegiatan. Meski diwakili oleh jajaran di lapangan, sosok AKBP Syaiful Wachid tetap mencerminkan komitmen kuat Polri untuk selalu hadir di tengah masyarakat.
Kehadiran Polri dalam kegiatan ini bukan sekadar menjalankan tugas pengamanan, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Pendekatan humanis yang dibangun oleh AKBP Syaiful Wachid menjadikan Polri semakin dekat dan diterima oleh warga.
Ratusan jemaah yang telah menjalani suluk tampak khusyuk mengikuti rangkaian penutupan. Wajah-wajah penuh ketenangan menggambarkan perjalanan batin yang telah mereka tempuh selama masa khalwat.
Bupati Lima Puluh Kota, H. Safni Sikumbang, hadir langsung dan berbaur bersama masyarakat. Kehadirannya menjadi bukti nyata dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian tradisi keagamaan yang telah mengakar kuat.
Sinergi antara pemerintah daerah dan Polri di bawah kepemimpinan AKBP Syaiful Wachid terlihat jelas dalam kegiatan ini. Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam menciptakan suasana yang aman, tertib, dan penuh kenyamanan bagi masyarakat.
Aparat kepolisian yang bertugas di lokasi terlihat aktif memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Tidak hanya menjaga keamanan, mereka juga hadir sebagai pelayan masyarakat yang memberikan rasa tenang bagi para jemaah.
Tradisi suluk yang dijalani para jemaah merupakan bagian dari perjalanan spiritual yang mendalam. Proses ini menjadi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus memperbaiki kualitas diri dalam kehidupan sehari-hari.
Puncak acara ditandai dengan prosesi tauliyah atau pengukuhan gelar, yang sarat dengan makna spiritual. Amanah yang diberikan kepada penerus silsilah menjadi tanggung jawab besar dalam menjaga dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan.
Dalam momentum ini, kehadiran AKBP Syaiful Wachid melalui jajaran Polres menjadi simbol bahwa Polri tidak hanya hadir dalam penegakan hukum, tetapi juga dalam kehidupan sosial masyarakat.
Tokoh agama setempat, Syekh Mulyadi Ketinggian, menyampaikan harapan agar perhatian terhadap surau-surau suluk semakin ditingkatkan. Ia menyoroti masih banyaknya fasilitas ibadah yang membutuhkan dukungan.
Harapan tersebut sejalan dengan semangat kolaboratif yang terus didorong oleh Kapolres AKBP Syaiful Wachid, di mana Polri hadir tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat.
Nuansa Lebaran yang masih terasa menambah hangat suasana. Ucapan saling memaafkan dan silaturahmi mempererat hubungan antarwarga dalam suasana penuh kekeluargaan.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai yang diperoleh selama suluk harus terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari, menjadi pedoman dalam bersikap dan bertindak.
Kehadiran Kapolres AKBP Syaiful Wachid dalam setiap momentum penting masyarakat menegaskan bahwa Polri hadir bukan sebagai institusi yang berjarak, melainkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat itu sendiri.
Catatan Redaksi:
Kehadiran Kapolres AKBP Syaiful Wachid dalam kegiatan keagamaan seperti penutupan suluk di Kabupaten Lima Puluh Kota mencerminkan peran aktif Polri dalam kehidupan sosial masyarakat.
Pendekatan humanis yang ditunjukkan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik.
Polri tidak hanya berperan dalam menjaga keamanan, tetapi juga hadir sebagai pengayom yang memahami nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat.
Inilah wujud nyata implementasi “Polisi untuk Masyarakat” yang hidup dan dirasakan langsung oleh warga.
TIM RMO

0 Komentar