Penulis: Ihsan,S.Pd.I,M.Pd Mahasiwa S3 Program Doktor Study Islam UM Sumatera Barat
Demonstrasi sering kali dipandang sebagai ancaman. Jalanan dipenuhi spanduk, teriakan, dan barisan aparat. Media memberitakan “kericuhan”, pejabat menyebutnya “gangguan stabilitas”. Namun, jika kita menengok sejarah bangsa ini, pendemo justru adalah alarm moral. Mereka hadir bukan untuk menghancurkan negara, melainkan untuk menyelamatkannya dari kebijakan yang menyesatkan.
Sejarah yang Berulang
Sejarah Indonesia berkali-kali membuktikan bahwa suara rakyat di jalan adalah penentu arah bangsa. Pada 1966, mahasiswa dan rakyat turun ke jalan menuntut perubahan di tengah krisis politik dan ekonomi. Mereka dianggap pengacau, tetapi justru dari tekanan itulah lahir transisi kekuasaan.
Tiga dekade kemudian, pada 1998, aksi rakyat kembali mengguncang negeri. Jalanan Jakarta, Yogyakarta, Medan, hingga Surabaya dipenuhi mahasiswa dan rakyat kecil. Mereka menolak krisis yang dibiarkan berlarut-larut, korupsi yang merajalela, dan otoritarianisme yang menindas. Hasilnya: lahir era reformasi, sebuah tonggak penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
Kini, pada 25 Agustus S/D 01 September 2025, ribuan rakyat kembali turun ke jalan. Mereka menuntut keadilan ekonomi, kestabilan harga kebutuhan pokok, serta penegakan hukum yang tidak tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Jeritan itu bukanlah ancaman bagi negara, melainkan pengingat bagi para pemimpin bahwa rakyat sedang menanggung beban berat.
Suara Jalanan, Suara Kebenaran
Demonstrasi adalah cermin yang jujur. Ia memperlihatkan wajah asli bangsa, tanpa polesan retorika politik atau laporan indah birokrasi. Di tengah istana mungkin terdengar nyanyian keberhasilan, namun di jalanan yang terdengar adalah keluh kesah perut lapar, ongkos hidup yang melambung, dan rasa keadilan yang tercabik.
Bung Hatta pernah berkata, “Demokrasi adalah keberanian untuk mendengar suara yang tidak kita sukai.” Kalimat ini relevan hari ini. Karena sering kali, suara rakyat di jalan justru adalah suara yang paling sulit diterima oleh penguasa—tetapi di situlah letak kebenarannya.
Mahatma Gandhi juga mengingatkan, “Ketidaktaatan sipil menjadi kewajiban suci ketika negara menjadi tiran atau korup.” Sementara Nelson Mandela menegaskan, “Tidak ada kebebasan jika rakyat tidak punya suara untuk menentang ketidakadilan.” Dari kalimat-kalimat itu jelas, pendemo bukanlah pengganggu bangsa, melainkan penegak nurani.
Pesan untuk Kekuasaan
Presiden Prabowo dan pejabat bangsa hari ini harus belajar dari sejarah. Legitimasi kekuasaan tidak akan bertahan lama jika hanya bergantung pada dukungan elite politik atau kekuatan aparat. Ia hanya bertahan jika rakyat merasa didengar.
Demonstrasi adalah alarm moral: ia berbunyi ketika kekuasaan terlalu nyaman, ketika janji-janji tidak ditepati, dan ketika rakyat merasa ditinggalkan. Alarm itu mungkin terdengar bising, tetapi tanpa alarm, bangsa ini akan terus berjalan dalam tidur panjang menuju jurang.
Penutup
Selama rakyat masih berani turun ke jalan, demokrasi masih hidup. Selama rakyat berani bersuara, bangsa ini masih punya harapan. Karena itu, sudah waktunya kita berhenti memandang pendemo sebagai musuh negara.
Mereka adalah alarm moral—yang dengan keberaniannya, menjaga agar bangsa ini tidak tersesat terlalu jauh.

0 Komentar