PADANG | Momentum Angkutan Lebaran 2026 menjadi catatan manis bagi PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat. Di tengah tingginya mobilitas masyarakat, KAI justru mampu menutup posko angkutan dengan capaian membanggakan: zero accident, tanpa satu pun kecelakaan perjalanan kereta api selama masa operasional.
Penutupan Posko Angkutan Lebaran 2026 sendiri secara resmi dilakukan pada Senin (30/3), mengikuti penutupan secara nasional. Meski demikian, operasional layanan kereta api tetap berjalan normal hingga 1 April 2026 guna memastikan kelancaran arus balik masyarakat.
Keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari kesiapan sistem dan dedikasi seluruh insan KAI Divre II Sumbar dalam menjaga keselamatan perjalanan kereta api di wilayahnya.
Kepala Humas KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab, menegaskan bahwa keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap aspek operasional perusahaan.
“Keselamatan menjadi prioritas utama kami dalam setiap operasional perjalanan kereta api. Alhamdulillah, selama masa Angkutan Lebaran tahun ini, seluruh perjalanan dapat berjalan dengan selamat, lancar, dan terkendali,” ungkapnya.
Tidak hanya dari sisi keselamatan, antusiasme masyarakat terhadap moda transportasi kereta api juga menunjukkan tren yang sangat positif. Selama periode Angkutan Lebaran 2026, KAI Divre II Sumbar berhasil melayani sebanyak 143.361 pelanggan.
Angka ini menjadi indikator meningkatnya kepercayaan publik terhadap layanan transportasi kereta api, khususnya di wilayah Sumatera Barat yang terus berbenah dalam menghadirkan layanan prima.
Menariknya, layanan KA Pariaman Ekspres menjadi primadona masyarakat. Kereta yang melayani rute favorit ini mencatat jumlah penumpang mencapai 100.708 pelanggan, atau mendominasi total pengguna selama masa angkutan Lebaran.
Tingginya minat masyarakat juga terlihat dari puncak penjualan tiket yang terjadi pada 24 Maret 2026. Pada hari tersebut, tiket terjual sebanyak 10.262 lembar dalam satu hari, melampaui kapasitas harian yang tersedia yakni 7.792 tempat duduk atau setara 132 persen.
Lonjakan ini menjadi bukti bahwa kereta api tetap menjadi pilihan utama masyarakat dalam melakukan perjalanan mudik dan libur Lebaran, berkat faktor kenyamanan, ketepatan waktu, dan keamanan yang terjamin.
Di balik keberhasilan tersebut, berbagai langkah strategis telah dilakukan oleh KAI Divre II Sumbar. Mulai dari penambahan personel di stasiun, penguatan sistem pengamanan jalur rel, hingga peningkatan fasilitas pendukung demi memberikan kenyamanan maksimal kepada pelanggan.
Selain itu, suasana stasiun juga didesain lebih humanis untuk memberikan pengalaman perjalanan yang lebih menyenangkan bagi masyarakat, khususnya pada momen Lebaran yang penuh kehangatan.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui Divre II Sumbar juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang telah mempercayakan kereta api sebagai moda transportasi pilihan selama periode Lebaran.
Tak hanya itu, masyarakat juga dinilai berperan besar dalam menjaga kelancaran operasional dengan mematuhi berbagai aturan keselamatan yang telah ditetapkan.
Penutupan posko bukanlah akhir dari pelayanan, melainkan awal dari komitmen baru untuk terus meningkatkan standar keselamatan dan kualitas layanan ke depannya.
Reza Shahab kembali menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen perusahaan yang saling bersinergi demi menghadirkan layanan terbaik.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pelanggan yang telah mempercayakan perjalanan mudiknya menggunakan kereta api, serta seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran Angkutan Lebaran tahun ini,” tutupnya.
Dengan capaian zero accident dan lonjakan jumlah penumpang, KAI Divre II Sumbar berhasil membuktikan bahwa transportasi kereta api tidak hanya menjadi pilihan, tetapi juga solusi andalan masyarakat dalam perjalanan yang aman, nyaman, dan berkesan selama Lebaran.
Catatan Redaksi:
Keberhasilan zero accident dalam Angkutan Lebaran 2026 menjadi bukti nyata pentingnya manajemen keselamatan transportasi publik yang terintegrasi.
Sinergi antara petugas, sistem operasional, serta kesadaran masyarakat dalam mematuhi aturan menjadi kunci utama terciptanya perjalanan yang aman.
Capaian ini diharapkan dapat menjadi standar berkelanjutan dalam pelayanan transportasi, khususnya dalam menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat di masa-masa mendatang.
TIM
0 Komentar