PASBAR|Festival Padusi Gandang Lasuang berlangsung meriah dan sukses memukau masyarakat Kabupaten Pasaman Barat di halaman Kantor Bupati Pasaman Barat, Sabtu (13/6) malam. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya nyata pelestarian seni budaya daerah sekaligus ruang ekspresi perempuan dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya lokal.
Penampilan Tari Padusi Gandang Lasuang sebagai sajian utama mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Selain itu, berbagai pertunjukan seni dari Sanggar Suryo Manunggal, Hori Management, Mhae Art Studio, Ronggiang Barambun Malam, serta penampilan Septian Bryan dan Roza Selvia turut menghibur penonton yang memadati area festival hingga acara berakhir.
Mewakili Bupati Pasaman Barat, Kepala Dinas Pariwisata Pasaman Barat, Afrizal, menyampaikan apresiasi kepada panitia, pelaku seni, budayawan, dan seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan festival tersebut. Menurutnya, kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam menjaga eksistensi seni dan budaya daerah di tengah perkembangan zaman.
“Pasaman Barat memiliki kekayaan seni dan budaya yang harus terus dilestarikan dan dikembangkan. Salah satu upayanya melalui penyelenggaraan festival dan berbagai kegiatan budaya. Festival Padusi Gandang Lasuang tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang ekspresi perempuan di ruang publik serta wadah apresiasi budaya yang perlu terus didukung,” ujar Afrizal.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat terus berupaya mendorong pengakuan terhadap kekayaan budaya daerah melalui pengusulan sejumlah karya budaya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.
“Tahun ini terdapat beberapa tradisi budaya yang diusulkan ke Kementerian Kebudayaan RI, di antaranya Padusi Gandang Lasuang dari Sasak, Ulu Podeh dari Air Bangis, dan Manjalang Lubuk Landua. Sementara itu, dua tradisi yang telah memperoleh sertifikat WBTb adalah Sulam Bonang Omeh dari Air Bangis dan Maapam 1000 Tungku,” jelasnya.
Ketua Pelaksana Festival, Reza Mashendra, mengatakan Festival Padusi Gandang Lasuang tidak hanya berorientasi pada pelestarian seni tradisi, tetapi juga menjadi sarana penguatan peran perempuan dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Menurutnya, melalui festival tersebut perempuan ditempatkan bukan sekadar sebagai pelaku seni, melainkan sebagai subjek budaya yang memiliki ruang untuk berekspresi, berkarya, dan menyampaikan nilai-nilai sosial kepada masyarakat.
“Festival ini menjadi media promosi kesetaraan perempuan. Perempuan bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga agen perubahan yang mampu menggerakkan kehidupan budaya masyarakat. Selain itu, kegiatan ini bertujuan melestarikan kesenian Gandang Lasuang serta meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga warisan budaya lokal sebagai identitas bangsa,” katanya.
Reza menjelaskan, penyelenggaraan Festival Padusi Gandang Lasuang mendapat dukungan Program Dana Indonesiana, yang merupakan Dana Abadi Kebudayaan yang dikelola Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan.
Sumber: Diskominfo Pasbar

0 Komentar